Posted by : trihandoyo Jumat, 24 Mei 2013


ALAT-ALAT GELAS

Disusun guna memenuhi tugas instrumentasi
http://4.bp.blogspot.com/_ySwAS0FWU8s/TTj_J_1ONdI/AAAAAAAAAAg/Ryi_8WiYRx0/s220/logo+poltekes+warna.jpg
Disusun oleh :
1.      Alfina Nurul Farah         (Reguler B / P17434012042)
2.      Mahardhika AP.                         (Reguler B / P17434012061)
3.      Risma Andriyani                        (Reguler B / P17434012071)

Semester 1 Reguler B
PRODI DIII ANALIS KESEHATAN

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Tahun Pelajaran 2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul “ Alat - alat Gelas”. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas instrumentasi.
Dalam makalah  ini dibahas  tentang macam-macam alat gelas di laboratorium, cara penggunaan, cara pembersihan, cara perawatan, dan cara kalibrasi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Oleh karena itu. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi mkesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk pembaca bagi pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

                                                                                                Semarang, 15 Desember 2012
                                                                                   
                                                                                                                Penulis,





DAFTAR ISI
Kata pengantar...............................................................................2
Daftar isi…....................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang.......................................................................4
b.      Tujuan....................................................................................5
c.       Rumusan Masalah…………………………………………..5
BAB II DASAR TEORI………………………………………...6
BAB III PEMBAHASAN………………………………………35
BAB IV PENUTUP……………………………………………..36
a.       Kesimpulan.............................................................................36
b.      Saran………………………………………………………...36











BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
            Dalam melaksanakan praktikum, biasanya praktikan akan melakukan perhitungan dan pengukuran. Dalam hal ini, ketelitian praktikan adalah hal yang sangat penting, yang dapat menentukan hasil akhir dari praktikum. Hal pertama yang harus diperhatikan agar dapat meningkatkan ketelitian adalah kita harus memperhatikan alat yang kita gunakan. Karena alat-alat tersebut memiliki skala yang berbeda-beda, dan tentu saja memiliki tingkat ketelitian yang berbeda pula. Semakin kecil skala alat tersebut maka akan semakin besar tingkat ketelitiaannya. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita membaca skala itu sendiri. (Koesmadji, 2008)
            Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah kebersihan dari alat yang akan  digunakan. Kebersihan  dari  alat  dapat  mempengaruhi  hasil   praktikum. Apabila alat yang akan digunakan tersebut tidak bersih, maka akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Contohnya jika pada alat-alat tersebut masih tersisa zat-zat kimia, maka zat tersebut dapat saja bereaksi dengan zat yang kita gunakan sesudahnya dan dapat mengakibatkan kegagalan dalam praktikum.(Ginting, 2011)
            Alasan-alasan di atas, mengajarkan kita bahwa pengenalan alat sangatlah penting dan utama disampaikan pada awal praktikum, selanjutnya kita harus tahu dulu nama, fungsi dan prosedur penggunaan alat-alat yang ada dilaboratorium agar diharapkan para praktikan dapat menggunakan alat sesuai dengan fungsinya dan sesuai dengan petunjuk agar memperoleh hasil praktikum yang baik, cepat dan efisien. Pekerjaan dalam laboratorium sering menggunakan alat-alat, contoh alat-alat tersebut antara lain: gelas beker, gelas ukur, pipet tetes, pipet ukur, pipet volume, tabung reaksi, labu ukur, buret, erlenmeyer, ball pipet, dan lain-lain. Penggunaan dari alat-alat tersebut sangat penting untuk diketahui para praktikan agar pekerjaan dalam laboratorium dapat berjalan dengan baik. Kesalahan dalam penggunaan alat-alat ini dapat mempengaruhi hasil dari praktikum. Oleh karena itu dalam percobaan ini diberikan beberapa pengetahuan dan latihan tentang penggunaan dan fungsinya. Sering kali di dalam laboratorium terjadi kesalahan dalam melakukan percobaan di karenakan para praktikan tidak mengetahui cara dan fungsi dari alat-alat laboratorium. Sebagian besar alat tersebut merupakan alat-alat yang terbuat dari gelas, sehingga memerlukan kehati-hatian dalam menggunakannya. Apabila terjadi kesalahan dalam menggunakan alat-alat tersebut, maka akan mengakibatkan hal yang fatal. Selain terganggunya praktikum, harga dari alat-alat  tersebut juga relatif mahal. Oleh karena itu para praktikan dituntut agar serius dalam praktik agar tidak terjadi kerusakan alat. (Achmad, 2008)
            Kesalahan dalam penggunaan alat dan bahan dapat menimbulkan hasil yang didapat tidak akurat dalam hal ilmu statistika kesalahan seperti ini digolongkan dalaam galat pasti. Oleh karena itu, pemahaman fungsi dan cara kerja peralatan serta bahan harus mutlak dikuasai oleh praktikan sebelum melakukan praktikum dilaboratorium kimia. Bukan hal yang mustahil apabila terjadi kecelakaan dalam laboratorium karena kesalahan dalam pemakaian atau penggunaan alat-alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan suatu praktikum yang berhubungan  dengan bahan kimia yang berbahaya. Disamping itu, pemilihan jenis alat yang akan digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian. Agar penelitian berjalan lancar.(Khasani, 2009)

  1. Tujuan
1.    Mengetahui fungsi alat – alat gelas laboratorium.
2.   Memahami prinsip kerja alat – alat gelas laboratorium.
3.    Memahami cara penggunaan, memelihara, memebersihkan, kalibrasi, dan memperbaiki alat gelas laboratorium.
  1. Rumusan Masalah
1.    Bagaimana prinsip kerja dari alat – alat gelas laboratorium?
2.    Apa fungsi dari alat – alat gelas laboratorium?
3.    Bagaimana keselamatan kerja saat menggunakan alat – alat ringan laboratorium?

BAB II
DASAR TEORI
Gelas adalah suatu zat amorf yang diperoleh dari mencampur bahan-bahan anorganik yang setelah dilebur pada suhu tinggi dan didinginkan kan menjadi bedan padat. Berdasarkan jenis dan komposisi dari bahan anorganik yang menyusunnya. Ada beberapa jenis gelas yaitu gelas biasa, gelas timbal, gelas borosilikat dan gelas leburan silika.
Alat gelas yang digunakan dilaboratorium (laboratory glassware) umumnya merupakan gelas borosilikat. Gelas ini terbuat dari kuarsa/silikat oksida berkualitas tinggi, borong oksida. Aluminium oksida dan natrium oksida. Gelas jenis ini mencair pada suhu agak tinggi dan mempunyai angka mulai yang kecil, oleh karena itu dapat dipanaskan hingga suhu tinggi dan dapat direndam dalam air dingin atau es tanpa terjadi keretakan atau pecah. Selain itu gelas borosilikat juga tidak bereaksi dengan bahan kimia sehingga cocok digunakan sebagai alat gelas laboratorium. Di dalam  perdagangan jenis gelas ini dikenal dengan berbagai merk seperti : Pyrex, Yena, Vycor, Duran, Schott, Assistant dan sebagainya.
Alat gelas yang sering digunakan di laboratorium
1.        Gelas Piala = Gelas kimia = Beaker Glass

http://www.progress.com.sg/files/Glass-Beaker.jpg

Biasanya terbuat dari tipe borosilikat. Digunakan untuk wadah larutan yang masih memerlukan pekerjaan lain, tempat melarutkan zat, tempat memanaskan, menguapkan larutan/air, untuk bejana titrasi dengan menggunakan bantuan pengaduk magnetic dan sebagainya. Bentuk gelas piala ada tipe tinggi, dan pendek, mempunyai volume yang bermacam-macam yaitu 1 liter, 500ml, 250ml, 200ml, 150ml, 100ml, bahkan ada pula yang berukuran 50ml.
Prinsip kerja : Wadah larutan, skala pada badan gelas digunakan untuk mengukur larutan secara tidak teliti.
K3 :
  • Menggunakan lap halus saat mengangkat beaker gelas dari kompor listrik.
  • Merendam beaker gelas dalam aquadest atau air saat menuangkan larutan asam dengan konsentrasi tinggi.
2.        Labu Erlenmeyer = Erlenmeyer Flask

http://w32.indonetwork.co.id/pdimage/82/3230782_erlenmeyer-flasks.jpg       http://w20.indonetwork.co.id/sgimage/31/65431_4.jpg

Labu Erlenmeyer terbuat dari jenis gelas borosilikat, labu Erlenmeyer ada yang dilengkapi dengan tutup dan tanpa tutup. Tutup labu Erlenmeyer terbuat dari kaca asah dan mulut labu juga kaca asah. Tutup/mulut labu Erlenmeyer berukuran standar, mulut labu ada yang berukuran sedang dan lebar tergantung dari keperluan. Labu Erlenmeyer tutup asah digunakan untuk reaksi yang memerlukan pengocokan kuat, atau digunakan untuk titrasi, dihubungkan dengan alat ekstraksi, alat destilasi dan sebagainya.  Sedangkan labu Erlenmeyer tanpa tutup asah digunakan untuk titrasi dengan pengocokan lemah hingga sedang. Labu Erlenmeyer mempunyai kapasitas ukuran 25 hingga 2000 ml.
Prinsip kerja : labu erlenmeyer dengan tutup asah digunakan untuk pencampuran reaksi dengan pengocokkan kuat sedangkan labu erlenmeyer tanpa tutup asah biasanya digunakan untuk mencampurkan reaksi dengan kecepatan lemah.
K3 : Menggunakan lap halus saat mengangkat Erlenmeyer dari kompor listrik.
3.        Labu Iodium = Iodium Determination Flask
http://nzaoldyeck.files.wordpress.com/2012/07/23-labu-iodium.jpg
Labu iodium mirip labu Erlenmeyer bertutup asah dan pada mulut labu dilengkapi oleh suatu piringan kaca yang digunakan untuk menempatkan cairan/larutan atau air yang berguna untuk mengikat uap iodium hasil reaksi dan lolos melalui tutup asah, dengan demikian tidak ada iodium hasil reaksi yang hilang karena menguap. Labu iodium mempunyai kapasitas ukuran 100 hingga 500 ml.
Prinsip Kerja : memasukkan sampel dalam labu iodium dan tutup dengan rapat, jangan sampai ada gelembung udara di dalamnya.
K3 :
  • Pecahnya labu yang dpat diatasi dengan mengganti yang baru.
  • Retaknya labu yang dapat diperbaiki dengan lem.
  • Apabila tutup labu kurang rapat ketika sedang digunakan dalam mereaksikan, maka aroma iodium yang menyenngat akan terhirup dan akan mengganggu kerja sehingga tutp labu harus ditutup rapat.
4.        Tabung reaksi = Test tube  

http://1.bp.blogspot.com/-YRQj7XlloR0/UFlrup0SogI/AAAAAAAAAP8/04eHCenIc4M/s1600/TABUNG+REAKSI.jpeg

Tabung reaksi umumnya terbuat dari berbagai macam jenis gelas lain : Borosilikat, Soda < Fiolax dan supremax. Soda glass tidak tahan pemanasan, fiolax Glass tidak peka terhadap perubahan panas dan pemanasan setempat. Tabung reaksi yang terbuat dari fiolax dan soda glass umumnya berdinding tipis. Sedangkan tabung reaksi yang terbuat dari Borosilikat dan supremax tahan pemanasan. Tabung reaksi ada yang mempunyai bibir atau pelek yang berguna untuk menahan tang pada pemanasan, ada  pula  yang  dilengkapi  dengan
tutup berulir atau sekrup aluminium/plastik. Ukuran tabung reaksi ditetapkan berdasarkan atas diameter mulut tabung bagian dalam dan panjang tabung, diameter dalam antara 8 hingga 30 mm sedangkan panjang tabung antara 70 hingga 200 mm. Tabung reaksi yang terbuat dari bahan Teflon atau polypropylene sangat kuat dan tahan panas hingga 1350 (polipropilen), 2750 (Teflon).
Prinsip Kerja : Sebagai wadah larutan, beberapa memiliki tutup yang digunakan untuk meletakkan sampel (darah).
K3:
  • Membawa serta dengan rak tabung sesuai dengan ukuran tabungnya agar tidak jatuh.
  • Gunakan penjepit tabung saat akan melakukan pemanasan.



5.        Labu takar = Labu Ukur = volumetric Flask
http://muthiaura.files.wordpress.com/2012/02/ohwpz3qe1.jpg
Labu takar umumnya terbuat dari jenis gelas borosilikat. Labu takar mempunyai mulut labu dengan ukuran standar yang melengkapi dengan tutupnya. Tutupnya labu dapat terbuat dari gelas asah atau Teflon. Labu takar mempunyai tipe gelas tidak berwarna (Clear Glass) dan berwarna (Amber Glass). Labu takar tidak boleh dipanaskan, kegunaan labu untuk membuat larutan dengan volume yang tepat/teliti, mengencerkan atau mengambil larutan dengan teliti. Labu takar mempunyai kapasitas volume 5 – 2000 ml.
Prinsip kerja : Labu ukur memiliki ketelitian tinggi sehingga sering digunakan untuk mengukur larutan secara teliti.
K3 :
  • Tidak boleh dipanaskan.
  • Gunakan kedua tangan saat mencampurkan larutan.
6.        Botol timbang = Wlighting Bottles

http://w20.indonetwork.co.id/pdimage/02/s_2710502_247895_103958386362622_100002453825905_38494_4033301_n.jpg
Botol timbang terbuat dari jenis gelas borosilikat, dilengkapi dengan tutup asah. Botolo timbang mempunyai tipe bentuk tinggi atau pendek. Botol timbang digunakan untuk menimbang sampel atau contoh, pengeringan bahan, atau penetapan susut pengeringan bahan. Kapasitas botol timbang mulai 15 hingga 80ml.

7.        Gelas ukur = Measuring Cylinders

http://3.bp.blogspot.com/-1mGmCJhKr_c/UC3EehEmWwI/AAAAAAAAAGg/NqmOHrnKaLQ/s1600/measuring-cylinder.jpg

Gelas ukur berbentuk silinder, terbuat dari jenis gelas borosilikat. Digunakan untuk mengukur cairan secara tidak teliti dan tidak masuk di dalam perhitungan, dapat digunakan pula untuk merendam pipet dalam asam pencuci. Gelas ukur ada yang dilengkapi dengan tutup asah, digunakna untuk melarutkan zat hingga volume tertentu (tidak teliti). Kapasitas volume gelas ukur 5 hingga 2000 ml.
Prinsip Kerja : Mengukur cairan secara tidak teliti dan tidak masuk dalam perhitungan.
K3 : perhatikan saat menuangkan larutan, jangan sampai larutannya mengalir pada tepi gelas ukur.





8.        Buret = Burettes

http://2.bp.blogspot.com/-yGGHGqzsPOY/UHMPGD286yI/AAAAAAAAAEs/I8OHwqzs3Bw/s1600/buret1.jpg

Buret berbentuk silinder, terbuat dari jenis gelas soda, borosilikat, amber, mempunyai kapasitas 1 hingga 100 ml dengan pembagian skala 0.01 hingga 0,2 ml. Bentuk buret dibedakan buret dengan ujung karan lurus (Burettes with straight stopcock) dan buret dengan ujung kran menyamping/ bengkok (Burettes with lateral stopcock). Kran buret dapat terbuat dari gelas asah atau Teflon. Buret digunakan untuk memberikan secara tetes demi tetes sejumlah volume larutan diketahui dengan teliti pada proses titrasi.
Buret sebelum digunakan harus bersih, kering dan bebas lemak. Sumbat keran tutup terbuat dari gelas asah atau Teflon, jika kran terbuat dari bahan Teflon maka tidak diperlukan bahan pelican, sedangkan kran gelas asah memerlukan sedikit pelumas untuk memudahkan putaran kran dan mencegah kebocoran. Buret yang telah digunakan harus segera dicuci bersih dan dikeringkan terutama jika digunakan larutan titran alkali, karena akan mudah terjadi kerak pada kran yang akhirnya menyebabkan tersumbatnya bagian jet atau lubang pengalir/pancaran. Sebelum titrasi dimulai pastikan bahwa tidak terdapat gelembung-gelembung udara di bawah kran dan titik-titik zat cair yang menempel pada dinding bagian dalam buret diatas garis meniskus larutan zat, karena akan menyebabkan kesalahan. Buret dibedakan menjadi : makro, seni mikro dan mikro buret. Untuk membantu memudahkan pembacaan menikus ada buret yang dilengkapi dengan latar belakang warna putih dengan pita garis biru dibalik dari pembagian skala buret, garis ini disebut sebagai garis Schellbach atau kadang-kadang disebut pula sebagai Buret Schellabach. Di laboratorium dikenal pula adanya buret otomatik (Automatic Burettes) yang dilengkapi dengan botol reservoir larutan standar, katub penyumbat  yang dapat dirubah kedudukannya (katub berfungsi untuk mengalir larutan dari botol reservoair atau untuk menutup aliran), selain itu ada juga yang disebut sebagai buret piston pada bagian alat dari potensiometer.
Prinsip Kerja : Buret harus bersih, kering dan bebas lemak sebelum digunakan. Sebelum titrasi dimulai, pastikan tidak ada gelembung udara di bawah kran karena menyebabkan kesalahan saat melakukan titrasi.
K3 :
  • Letakkan pada keranjang plastik.
  • Perhatikkan kran buret, gunakan pelumas untuk memudahkan putaran kran buret dan mencegah kebocoran.
9.        Corong = Funnels

http://3.bp.blogspot.com/-0UrRFD8zuIc/UFdmd7C8q-I/AAAAAAAAADU/gwTHLgwOl3A/s320/clip_image0082.jpg
Corong terbuat dari jenis borosilikat atau plastik, digunakan untuk menyaring larutan, memindahkan zat caira atau sampel padat. Corong mempunyai garis tengah 35 hingga 300 mm dan ada yang mempunyai tangkai corong panjang, sedang dan pendek. Disamping itu tangkai corong ada yang berlubang lebar digunakan untuk mengalirkan zat cair yang kental. Penggunaan kertas saring yang telah dibentuk kerucut corong. Pemilihan tangkai corong tergantung dari kegunaan.
Prinsip Kerja : membantu memasukkan cairan dalam suatu wadah dengan ukuran mulut kecil.
K3 : saat menuangkan larutan, corong sebaiknya tidak bersentuhan dengan mulut wadah usahakan menjauh sedikit.

10.    Pipet Volume = Pipet gondok = Volumentric Pipettes

http://4.bp.blogspot.com/-DuAaS2tZtgQ/UFAB-7vAjAI/AAAAAAAAAEI/CZ2JM5Jdckw/s1600/PIPET+VOLUM.jpg

Pipet terbuat dari gelas jenis soda jernih. Mempunyai kapasiatas 0,5 hingga 100 ml. Pipet volume digunakan untuk mengambil cairan, memindahkan cairan atau memipet sejumlah volume cairan dengan teliti atau seksama. Pipet volume ada yang dilengkapi pengaman. Penghisap larutan menggunakan pipet melalui mulut harus dilakukan secara hati-hati, agar tidak tertelan/terhisap hingga mulut. Penghisapan cairan dilakukan sampai 1-2 cm diatas garis tanda, kemudian diangkat dan  dibersihkan / keringkan  bagian ujung luar dari pipet menggunakan kertas penghisap dan dikeluarkan secara hati-hati hingga tanda, kemudian alirkan isi dengan  posisi  pipet  tegak lurus terhadap wadah  yang akan  digunakan  dengan ujung pipet menempel pada dinding bagian dalam dari wadah. Jangan menghisap bahan beracun atau zat yang bersifat keras (asam, basa kuat) melalui mulut akan tetapi gunakan pengisap karet atau digunakan aspirator. Untuk mengeluarkan isi pipet jangan ditiup dengan mulut, tetapi cukup dengan teknik menggoreskan ujung pipet pada dinding dalam dari wadah sebanyak 3 x.
Prinsip Kerja : memipet atau memindahkan volume cairan dengan teliti atau seksama.
K3 :
  • Tidak menggoyangkan pipet untuk mengeluarkan sisa larutan yang tertinggal pada pipet, tetapi sebaiknya ditiup atau menggoreskan ujung pipet pada dinding dalam dari wadah sebanyak 3x.
  • Menggunakan ball pipet saat memipet larutan berbahaya dan beracun.
  • Penghisapan larutan menggunakan pipet melalui mulut usahakan pipet berada pada dasar wadah, agar tidak ada gelembung yang masuk saat memipet.
11.    Pipet ukur = graduated Pipettes

http://2.bp.blogspot.com/-juWmFYqZOiw/UFK1vVskMvI/AAAAAAAAAVo/Js9dt_K8qf8/s1600/pipet+ukur.jpg

Pipet ukur terbuat dari gelas jenis soda jernih, mempunyai kapasitas 0,01 hingga 50 ml yang dilengkapi dengan pembagian skala pada dindinh pipet 0,001 hingga 0,5 ml. pipet ukur digunakan untuk mengambil, memindahkan atau memipet sejumlah volume cairan secara kurang teliti dan tidak masuk di dalam perhitungan pada penetapan kadar. Pipet ukur ada yang dilengkapi dengan pengaman dan ada juga yang diberi garis Schellbach untuk memudahkan pembacaan meniskus.
Prinsip Kerja : memipet atau memindahkan volume cairan dengan teliti atau seksama.
K3 :
  • Tidak menggoyangkan pipet untuk mengeluarkan sisa larutan yang tertinggal pada pipet, tetapi sebaiknya ditiup atau menggoreskan ujung pipet pada dinding dalam dari wadah sebanyak 3x.
  • Menggunakan ball pipet saat memipet larutan berbahaya dan beracun.
  • Penghisapan larutan menggunakan pipet melalui mulut usahakan pipet berada pada dasar wadah, agar tidak ada gelembung yang masuk saat memipet.

12.    Desikator = Eksikator = Desiccators

http://nzaoldyeck.files.wordpress.com/2012/07/10-desikator.jpg

Desikator terbuat dari gelas semi-borosilikat, plastik atau mika. Tipe gelas jernih atau sumber. Desikator digunakan untuk : mendinginkan bahan atau alat gelas misal krus porselin, botol timbang setelah dipanaskan dan akan ditimbang. Selain itu juga berguna untuk mengeringkan bahan atau menyimpan zat atau bahan yang harus dilindungi terhadap pengaruh kelembaban udara. Desikator terdiri atas wadah yang dilengkapi dengan tutup, tutup desikator dapat pula dilengkapi dengan kran yang digunakan untuk menghampa udarakan isi desikator (dihubungkan dengan pompa hisap). Di dalam desikator diletakkan piringan berpori yang terbuat dari porselin piringan porselin digunakan untuk meletakkan bahan atau alat gelas yang akan dikeringkan/disimpan. Di bawah piringan porselin meletakkan bahan pengering, bahan  pengering yang umum digunakan adalah: silikagel asam sulfat pekat fofor pentaoksida. kalsium oksida dan sebagainya. Pengeringan silikaget biasanya diberi indikator warna biru untuk yang kering, dan jika setelah mengikat uap air warna akan berubah menjadi merah. Silikagel yang telah jenuh dengan uap air dapat dikeringkan lagi dengan cara dipanaskan dalam oven dengan suhu lebih tinggi dari 1000. Tutup desikator pada bagian permukaan harus diberi bahan pelicin misal: silicon grease. agar dapat tertutup lebih rapat. Gunakan dua buah tangan untuk membawa desikator atau untuk membukanya, tangan pertama digunakan penahan desikator dan tangan yang lain digunakan untuk mendorong tutup desikator. Jika desikator dihampa udarakan, sebelum dibuka kran harus dibuka terlebih dahulu agar tekanan udara dibuka kran harus dibuka terlebih dahulu agar tekanan udara di dalam dan diluar desikator sama hingga akan memudahkan unutk membukanya.
Prinsip kerja : Mendinginkan, mengeringkan serta menyimpan zat atau bahan.
K3 : Gunakan dua buah tangan untuk membawa desikator atau untuk membukanya, tangan pertama digunakan sebagai penahan desikator dan tangan yang lain digunakan untuk mendorong tutup desikator. Jika desikator dihampa udarakan, sebelum dibuka kran harus dibuka terlebih dahulu agar tekanan udara di dalam dan diluar desikator sama hingga akan memudahkan untuk membukanya.
13.    Batang pengaduk = Strirring rod
Batang pengaduk terbuat dari gelas, polietilen atau logam yang dibungkus dengan polietilen. Batang pengaduk mempunyai panjang sesuai dengan keperluan dan digunakan sebagai pengaduk larutan atau suspensi yang umumnya dalam labu piala. Erlenmeyer atau tabung reaksi. Kadang-kadang diunakan pula sebagai alat bantuk untuk memindahkan cairan dari suatu bejana ke bejana lain. batang pengaduk umumnya bergaris tengah 2-4 mm, dan mempunyai panjang yang bervariasi 6 hingga 30 cm.
Prinsip Kerja : Mengaduk larutan atau suspense dalam wadah.
K3 : dalam mengaduk tidak bolek terlalu kuat atau kasar agar larutan tidak terpecik dan wadah tidak pecah.


14.    Gelas Arloji = Kaca arloji = Watch Glasses

http://wanibesak.files.wordpress.com/2010/10/clip_image043_thumb2.jpg?w=244&h=211

Terbuat dari gelas borosilikat, mempunyai diameter yang bervariasi antara 30 – 200 mm, digunakan untuk menguapkan zat, pembentukan hablur, reaksi, pengukuran pH menggunakan kertas indikator atau untuk menutup labu pada proses pemanasan.
Prinsip Kerja : wadah penimbangan zat padat
K3 : berhati – hati saat menempatkan wadah
15.    Corong Pisah = Corong pemisah = separatory Funnels
http://w41.indonetwork.co.id/sgimage/54/65454_4.jpg

Digunakan untuk mengekstraksikan zat cair dengan zat cair, terbuat dari gelas borosilikat, tidak berwarna dan amber. Berbentuk kerucut (buah per) bulat dan silinder dilengkapi dengan kran dan tutup yang terbuat dari bahan gelas asam atau Teflon. Mempunyai kapasitas 50 hingga 2000 ml. corong pisah mempunyai tangkai bermacam-macam ada yang bertangkai pendek, panjang, dilengkapi dengan penyambung gelas asah standar, dilengkapi dengan pengatur tetesan. Corong pisah bentuk kerucut dan silinder digunakan untuk memisahkan dua buah zat cair yang sulit dilihat batas pemisahannya. Selain digunakan untuk ekstraksi dapat pula untuk mengatur aliran zat cair pada proses kromatografi kolom dan reaksi kimia lain. cara menggunakan corong pisah sudah tepat dan tidak bocor. Pengocokan corong pisah dilakukan dengan memegang bagian atas berikut tutupnya dengan tangan kanan dan kiri memegang bagian tangkai corong berkut krannya, kocok dengan cara memutar kearah tubuh kita. Jika digunakan cairan yang mudah menguap sebagai cairan penyarian keluarkan tekanan udara didalam corong pisah agar tidak terjadi tekanan yang kuat dan dapat melemparkan tutup corong berikut isinya.
Prinsip Kerja : mengekstraksi zat cair dengan zat cair.
K3 :
  • Sebelum menggunakan, lakukan pengecekan tutup dan kran corong pisah sudah tepat dan tidak bocor.
  • Dalam pengocokkan corong pisah dilakukan dengan cara memegang bagian atas berikut tutupnya dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang tangkai corong berikut kerannya.
16.    Corong Buchner =  buchner Funnels

http://prkita.files.wordpress.com/2010/12/corong-buchner.jpeg

Corong Buchner terbuat dari porselin atau gelas borosilikat, corong ini digunakan untuk menyaring dengan cepat terutama jika digunakan pelarut yang mudah menguap. Corong penggunaannya dibantu dengan labu hisap yang dihubungkan dengan pompa hisap/vakum. Corong mempunyai dasar yang berpori kasar dan jika akan digunakan harus diletakkan kertas saring yang mempunyai diameter dalam corong atau lempeng berpori. Corong ini cocok untuk menyaring bahan kasar dengan cairan penyari atau pelarut.
Penggunaan labu hisap pada penyaringan menggunakan corong Buchner harus diperhatikan kedudukan tangkai corong dengan arah hisapan pompa agar diatur sedemikian rupa hingga cairan yang keluar dari corong tidak terisap oleh pompa. Penggunaan pompa hisap pada berbagai alat gelas untuk keperluan laboratorium agar diperhatikan benar agar tidak terjadi kesalahan, untuk mematikan atau menghentikan penghisapan agar tidak langsung pada pompa (dapat menyebabkan cairan terhisap kearah pompa) akan tetapi lepaskan dahulu hubungan alat gelasnya agar berhubungan dengan udara, dengan demikian tidak terjadi tekanan yang berbalik (misal: pada saat menghilangkan udara dari larutan menggunakan pompa hisap, penggunaan pompa hisap pada alat penetapan protein Kjeldahl), diameter corong Buchner 26 – 380 mm, sedangkan kapasitas labu hisap 250 – 10.000 ml.
Prinsip Kerja: Menyaring bahan kasar dengan cairan penyaring atau pelarut.
K3 :
  • Memperhatikan kedudukan tangkai corong dengan arah hisapan pompa agar diatur sedemikian rupa sehingga cairan yang keluar dari corong tidak terhisap oleh pompa.
  • Saat menghentikan penghisapan, terlebih dahulu lepaskan hubungan alat gelasnya agar tidak berhubungan dengan udara, sehingga tidak terjadi tekanan yang berbalik.
17.    Labu Kjeldahl = Kjeldahl Flasks

http://3.bp.blogspot.com/-RjFBMTwVCSE/UFWlX4Uf3yI/AAAAAAAAADw/ZtxR6K1GnBY/s1600/images.jpg
Terbuat dar gelas borosilikat, dengan kapasitas 50 – 1000 ml, digunakan untuk destruksi atau digesti protein pada penetapa protein dan dapat pula digunakan sebagai labu destilasi pada hasil destruksi protein. Labu kjeldahl boleh dipanaskan dengan menggunakan pemanas listrik atau lempeng pemanas. Pada waktu destruksi protein dalam labu kjeldahl posisi labu harus dimiringkan dengan mulut labu menyandar pada penampung uap asam yang terbentuk pada waktu destruksi dilakukan.
Prinsip Kerja : posisi labu harus miring dengan mulut menyandar pada penampung uap asam.
K3 : saat memasangkan labu pada mulut penampung uap harus rapat agar uap asam tidak menyebar saat melakukan proses destruksi.
18.    Krus =Crucible

http://www.thesciencefair.com/Merchant2/graphics/00000001/CrucibleLowForm3767_5_L.jpg
Krus umumnya digunakan untuk membakar/mengarangkan/mengabungkan zat pada analisis Grravimetri. Krus dapat dipanaskan hingga suhu tinggi dalam tanur (Muffle Furnance) 19000. krus mempunyai kapasitas 2 hingga 250 ml dapat mempunyai bentuk tinggi atau pendek, krus dilengkapi dengan tutup. Krus dibuat dari bahan : Porselin, platina, tanah liat yang dibakar, campuran logam Platina-tembaga. Baja tahan karat. Nikel, Graphite. Krus porselin umumnya yang digunakan untuk analisis laboratorium sehari-hari untuk pengabuan zat, pada analisa gravimetric. Untuk menga bukan zat yang dianalisis, terlebih dahulu krus harus ditimbangkan hingga bobot tetap. Zat yang dianalisis direkasikan hngga terbentuk endapan, endapan yang terbentuk secara kuantitatif disaring menggunakan kertas saring bebas abu, dan kertas saring aberikut endapannya dilakukan dengan jalan dimasukkan kedalam krus yang telah mempunyai bobot tetap, dibakar dengan api bebas kecil secara hati-hati, kemudian baru digunakan api besar, setelah sebagian besar kertas dan encapan telah menjadi abu yang berwarna putih, pindahkan pemanasan kedalam tanur. Pada saat pemijaran kertas saring zat yang diuji, maka seluruh zat organik akan terbakar menjadi arang yang berwarna hitam, jika pemanasan dilanjutkan seluruh zat organik (arang) akan hilang terbakar dan akan diperoleh abu atau sisa yang terdiri atas zat anorganik yang berupa oksida logam yang berwarna putih atau berwarna lain tergantung dari logamnya. Krus porselin ada bagian dalamnya diglazur hngga mengkilat umumnya digunakan pada pemanasan pada suhu 300-8000, krus tanah liat yang dibakar tahan hingga suhu 12000, sedangkan krus porselin tipe Alsint tanah hingga suhu 19000 seperti krus logam. Untuk memijarkan contoh yang berupa cairan, sebelum dipanaskan pada api bebas harus dikeringkan atau diuapkan terlebih dahulu menggunakan tangas air/uap. Krus platina atau emas digunakan untuk memijarkan untuk menetapkan sisa pemijaran zat secara teliti atau untuk melihat kemurnian zat pada analisis secara fluoresensi sinar x dan penetapan titik leleh dari suatu gelas. Krus Gooch adalah krus porselin yang pada bagian dasar krus memiliki pori-pori. Digunakan untuk menyaring secara langsung pada krus setelah lubang porinya dilapis dengan bubur asbes. Kemudian baru dipijarkan. Jika kita memiliki krus yang baru sebelum digunakan harus dicuci dan direndam dengan asam pencuci. Untuk memasukkan/mengambil krus dari tanur gunakan tang krus tangkai panjang dan untuk memindahkan krus dari desikator ke neraca gunakan tang krus tangkai pendek.
Teknik memindahkan endapan secara kuantitatif ke dalam corong gelas yang dilengkapi dengan kertas saring bebas abu. Endapan yang tersaring pada kertas saring dikeringkan dengan menggunakan krus porselin, kemudian diarangkan dan dipijarkan (analisis gravimetric)
Keterangan :
a.  Siapkan corong gelas yang telah dilengkapi dengan kertas saring bebas abu, larutan yang akan ditetapkan secara gravimetric dituang terlebih dahulu cairan jernihnya dari labu pengendapan dengan bantuan-bantuan batang pengaduk kaca.
b.  Kemudian endapan diaduk agar dapat dipindahkan dengan sempurna.
c.  Pindahkan endapan secara kuantitatif.
d.  Dengan bantuan botol semprot pindahkan sisa yang menempel pada dasar labu.
e.  Bilas labu dengan air suling
f.   Tuangkan air bilasan secara kuantitatif dengan bantuan bobot semprot
g.  Siapkan krus porselin yang cocok dan telah diketahui bobot tetapnya
h.  Biarkan endapan pada corong hingga cairannya menetes semua, kemudian kertas saring yang mengandung endapan dilipat dengan cara seperti pada gambar (h).
i.   Kemudian masukkan ke dalam krus porselin
j.   Krus porselin dipanaskan dengan api kecil, posisi krus tegak dengan tutup dibuka sedikit, dengan demikian kertas saring dan endapan akan mongering dan akhirnya terbakar.
Prinsip Kerja : praktikum analisis laboratorium sehari – hari untuk pengabuan zat pada analisis gravimetri.
K3 :
  • Sebelum digunakan, krus di cuci dan di rendam dengan asam pencuci.
  • Untuk mengambil, memasukkan, memindahkan krus dari tanur menggunakan tang krus tangkai panjang dan pendek.
19.    Labu alas bulat =Round bottom flasks

http://202.67.224.134/pdimage/38/2309538_lab.jpg

Labu alas bulat terbuat dari gelas borosilikat mempunyai kapasitas 10 – 20.000 ml, mempunyai berbagai variasi sesuai dengan kegunaannya, yaitu variasi leher labu ada yang berleher panjang, sedang dan pendek, jumlah leher 1 hingga 4, leher ada yang bercabang dan sebagainya. Labu alas bulat boleh dipanaskan, umunya leher labu mempunyai lubang dengan diameter standar dari gelas asah sehingga memungkinkan untuk dihubungkan/dirangkai dengan alat yang mempunyai hubungan yang sesuai atau dapat ditutup dengan tutup gelas asah yang cocok. Labu alas bulat mempunyai kegunaan yang bermacam-macam tergantung dari bentuk atau tipe leher labunya. Misalnya digunakan untuk mendidihkan suatu cairan atau dihubungkan dengan alatlain Misal : alat penetapan kadar air, alat ekstraksi, alat destilasi (penyulingan). Alat refluks alat penguap berputar atau alat sintesa dan sebagainya. Labu alas ada yang berbentuk bulat ada yang berbentuk buah per.  

20.    Cawan Petri


-     Cawan Petri digunakan untuk membuat media, atau kultur perbenihan mikrobiologi.
-    Cawan Petri terdiri atas piring dan tutupnya yang mempunyai diameter 55-143 mm. dengan tebal 5-70 mm
K3 : menutup cawan petri setelah memasukkan biakan bakteri agar tidak terkontaminasi dengan udara.
21. Botol penetes
-   Botol ini mempunyai kapasitas 30-250 ml, dilengkapi dengan tutup yang mempunyai tempat mengalirkan cairan/meneteskan cairan atau tutup yang dilengkapi dengan pipet.
-   Digunakan untuk menyimpan cairan indicator, cairan pewarnaan dan sebagainya.
Prinsip Kerja : menyimpan dan meneteskan cairan.
K3 : saat mengangkat pipet dalam botol, harus hati – hati jika tidak maka cairan akan berceceran.
22. Botol Pereaksi (Botol Reagen)

http://w34.indonetwork.co.id/pdimage/76/2404776_botolreagent.jpg

-    Botol ini mempunyai kapasitas 5010.000 ml dilengkapi dengan tutup terbuat dari kaca  asah.
-    Digunakan untuk penyimpanan asam yang berasap, botol dilengkapi dengan penutup  bahan atau kap asam.
K3 :
  • Khusus untuk larutan asam, botol pereaksi diletakkan pada lemari asam.
  • Pasang tutup botol agar larutan tidak bercampur dengan udara.
23. Piknometer
-   Digunakan untuk alat penetapan bobot jenis larutan atau cairan, piknometer terdiri dari dua jenis yaitu yang dilengkapi dengan tutup terbuat dari thermometer yang dimulutkan berapa gelas asah yang sangat dipengaruhi oleh suhu atau memerlukan.
-   Ketelitian dan piknometer yang dilengkapi tutup. Dan piknometer tanpa dilengkapi tutup thermometer tetapi tutup asah yang memiliki lubang kapiler.
-   Digunakan untuk menimbang sampel atau contoh, penyaringan bahan, atau penetapan susut, penyaringan bahan
-   Mempunyai kapasitas mulai 15-80 ml

24. Cawan Porselin

http://w31.indonetwork.co.id/pdimage/51/2328251_mortir.jpg

-    Digunakan untuk menguapkan cairan pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Misalnya didalam oven diatas tengah air, uap, pasir dan sebagainya.
K3 : memperhatikan suhu saat menguapkan cairan.
25. Pipet tetes

http://2.bp.blogspot.com/_wfOMGfOA5sQ/TIM9B-EBatI/AAAAAAAAAFo/wCu-gpZ-U5U/s1600/Pipet+Tetes.jpg

-    Pipet ini digunakan untuk menambahkan atau untuk meneteskan larutan untuk mengambil larutan apabila volume larutan berlebihan dalam suatu wadah
-    Untuk mencukupkan atau menghimpitkan volume.
-    Pipet ini ada yang berskala, dan ada yang tidak berskala.
Prinsip Kerja : menambahkan cairan tetes demi tetes hingga volume tepat.
K3 : setelah memipet miringkan sedikit pipet agar larutan yang dipindahkan tidak menetes dan luruskan kembali pipet saat akan memindahkannya pada wadah lainnya.
26. Ose
http://labkimia.com/wp-content/gallery/ose/ose.jpg
1.    Ose Jarum
2.    Ose Cincin
Gunanya   :   Untuk pembiakan kuman untuk mengambil, memindahkan dan mengisolasi mikroorganisme.

21.    Desk Glass


Desk glass adalah penutup objek glass, berbentuk persegi lebih kecil dan tipis karena dimaksudkan agar bisa menutupi preparat tanpa mengganggu pemfokusan pengamatan dibawah mikroskop.
22.    Objeck Glass


Merupakan gelas preparat yang akan digunakan untuk pemaparan sediaan darah atau pemeriksaan lain yang akan diperiksa dengan mikroskop.

22. Pipet Thoma


Pipet yang digunakan adalah pipet Thoma untuk mengencerkan eritrosit, terdiri atas pipa kapiler yang bergaris bagi dan membesar pada salah satu ujung membentuk bola. Di dalam bola terdapat sebutir kaca merah.Pipet Thoma untuk mengencerkan lekosit sama dengan pipet eritrosit, namun didalam bola terdapat sebutir kaca putih.

25. Pipet LED Westergreen

LED digunakan untuk mengetahui Laju Endap Darah pasien yang akan didiagnosa penyakitnya. Merupakan pemeriksaan hematology rutin.

26. Pipet LED Wintrobe


Merupakan alat Laboratorium yang digunakan untuk pemeriksaan LED (Laju Endap Darah) cara wintrobe. Selain menggunakan cara ini dapat juga dilakukan dengan menggunakan LED metode Westergreen.

28.  Botol Winkler


Botol Winkler digunakan untuk pemeriksaan kimia air. Biasanya digunakan untuk pemeriksaan DO . Volume tertera pada tubuh botol.


15. Thermometer

Termometer adalah batang kaca yang panjangnya 300 mm, diameter 6-7 mm berisi air raksa dan gas, serta dilengkapi dengan skala derajat Celcius. Berfungsi untuk mengukur suhu suatu larutan atau ruang inkubator. Prinsip kerjanya yaitu mengukur suhu sesuai laju air raksa di dalam termometer.

14. Tabung Durham
Tabung durham memiliki bentuk yang sama seperti tabung reaksi tetapi ukurannya sangat kecil. Berfungsi untuk menampung hasil fermentasi mikroorganisme berupa gas. Dalam penggunaannya, maka tabung durham itu ditempatkan terbalik di dalam tabung reaksi yang lebih besar dan tabung ini kemudian diisi dengan medium cair.

12. Urinometer


Urinometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur berat jenis suatu larutan. Tetapi biasanya urinometer digunakan untuk mengukur berat jenis urine. Cara membaca urinometer adalah dengan menggunakan visual dan setinggi miniskus.
PERAWATAN ALAT - ALAT GELAS
1.  Ruang penyimpanan peralatan harus bertemperatur antara 270 C – 370 C dan diberi tambahan lampu 25 watt.
2.  Ruang penyimpanan diberi bahan silicon sebagai zat higroskopis.
3.  Pada waktu memanaskan tabung reaksi hendaknya ditempatkan di atas kawat kasa. Boleh menggunakan pemanasan secara langsung asalkan bahan gelas terbuat dari pyrex.
4.  Gelas yang akan direbus hendaknya tidak dimasukkan langsung ke dalam air yang sedang mendidih melainkan gelas direndam dengan air bersih dan dingin kemudian tambahkan detergent, larutan kalium dichromat 10 gr, asam belerang 25 ml dan aquadest 75 ml. Penggunaan detergent dapat menghilangkan lemak dan tidak membawa efek perubahan fisik. Kadang-kadang memerlukan waktu perendaman sampai beberapa jam, kemudian dibilas dengan air bersih. Keringkan dengan udara panas lalu simpan di tempat yang kering.
5.  Debu, keringat, minyak dari telapak tangan mudah menempel pada peralatan berbahan baku gelas. Oleh karena itu setelah digunakan luangkan waktu sejenak untuk membersihkan permukaan peralatan dengan kain lembut atau dengan kertas tissue khusus. Gunakan alcohol, acetone, kapas, sikat halus dan pompa angina untuk membersihkan lensa jangan sampai merusak lapisan lensa. Saat ini terdapat cairan pembersih khusus kaca/lensa yang dapat diperoleh di optic untuk membersihkan kaca/lensa dengan lebih sempurna. Hindarkan membersihkan kaca/lensa dalam keadaan kering apalagi dengan menggunakan  kain yang berseray kasar karena hal itu dapat menimbulkan goresan pada kaca/lensa.
6.  Letakkan peralatan berbahan baku gelas di tempat ketika tidak digunakan. Meletakkan peralatan tidak di tempatnya beresiko merusak kondisi alat karena mungkin saja peralatan tersebut tertindih atau tertekan yang mengakibatkan terjadinya perubahan fisik permanent.



CARA KALIBRASI
-     Labu Ukur
Prosedur :
1.      Timbang botol timbang yang sudah bersih dan kering, missal beratnya A
2.      Isi labu ukur dengan air murni yang sudah diukur suhunya sampai tanda batas, kemudian timbang kembali, misalnya beratnya B gram.
3.      Ukur temperatur air, temperature udara, dan tekanan udara.
Perhitungan :
Baca faktor koreksi untuk volume labu ukur pada suhu air terukur, misalnya x gram. Baca faktor koreksi untuk tekanan udara terukur, misalnya y gram.
Volume labu ukur = (A-B+x)-y = Z mL.
-     Pipet Ukur
Prosedur  :
1.      Timbang sebuah botol timbang bertutup yang sudah bersih dan kering, missal beratnya A.
2.      Isap air murni yang suhunya telah diukur dengan ball pipet sampai atas tanda batas. Kemudian turunkan kelebihan air dengan perlahan-lahan sampai meniscus bagian bawah menyentuh tanda batas.
3.      Tuangkan seluruh air kandungan pipet tersebut ke dalam botol timbang yang sudah diketahui beratnya, tutup dan timbang bersama isinya, missal beratnya B gram.
4.      Hitung volume pipet dengan menggunakan table kareksi suhu air dan tekanan udara.
Perhitungan :
Baca koreksi faktor untuk volume labu ukur pada suhu air terukur, misalnya x gram. Baca faktor koreksi untuk tekanan udara terukur, misalnya y gram.
Volume pipet seukuran = ( A-B+x ) – y = Z mL.


-     Buret
Prosedur :
1.      Timbang 5 buah botol timbang tertutup
2.      Isi buret bersih dengan air murni yang telah diukur temperaturnya. Kemudian buret ini ditempatkan pada statif dengan posisi tegak lurus, dan keluarkanlah air sampai meniskusnya menyinggung tanda batas nol.
3.      Alirkan 5 ml air secara perlahan, tamping dalam botol timbang yang telah diketahui massanya, dan tutup.
4.      Isi buret hingga titik nol, dan alirkan air sebanyak 10 ml. tamping dalam botol timbang kedua, baca meniskusnya.
5.      Ulangi pengerjaan di atas untuk volume 15, 20, 25, 30, dan 35 timbang setiap botol timbang yang berisi air tersebut dan hitung volume pipet dengan menggunakan tabel koreksi suhu air, menurut rumus  Volume = ( A-B+x)-y = Z mL..
6.      Baca faktor koreksi dari setiap volume diatas.
7.      Apabila koreksi rata rata dari tiap titik tidak lebih besar dari 0.04 mL, maka buret tersebut memenuhi syarat untuk dipakai.

-     Pipet Volume
Prosedur :
1.      Timbang sebuah botol timbang yang bertutup yang sudah bersih dan kering, misalnya berat A gram.
2.      Isap air murni yang suhunya telah diukur dengan ball pipet sampai tanda batas, kemudian turunkan kelebihan air dengan perlahan-lahan sampai meniscus bagian bawah menyentuh tanda batas.
3.      Tuangkan seluruh air kandungan pipet tersebut ke dalam botol timbang yang sudah diketahui beratnya, tutup dan timbang bersama isinya, missal beratnya B gram.
4.      Hitung volume pipet dengan menggunakan tabel koreksi suhu air dan tekanan udara.


Perhitungan :
Baca faktor koreksi untuk volume labu ukur pada suhu air terukur, misalnya x gram. Baca faktor koreksi untuk tekanan udara terukur, misalnya y gram.
Volume pipet seukuran = ( A-B+x ) – y = Z mL.
Catatan :
1.      Pengerjaan kalibrasi hendaknya dilakukan dalam ruangan ber AC agar suhu ruangan konstan selama pengujian
2.      Sebelim, kalibrasi dilakukan, peralatan harus sudah bersih ( dicuci dengan detergen, larutan kalium dikromat dan air ), lalu keringkan dengan jalan membilasnya dengan alcohol dan menghembuskan udara kering kedalamnya.


















BAB III
PEMBAHASAN
          Tabung reaksi digunakan untuk tempat direaksikannya suatu zat kimia jumlah kecil, ukurannya ada yang mempunyai garis tengah 1 cm dan tingginya 4 cm. Buret terbuat dari gelas yang terdiri dari tabung panjang dan bagian bawahnya ditutup dengan kran yang berfungsi untuk mengatur keluarnya cairan. Alat ini digunakan untuk melakukan titrasi.
            Erlenmeyer sebenarnya termasuk dalam labu ukur. Erlenmeyer digunakan sebagai tempat zat yang akan dititrasi. Ukurannya terdiri dari 50 ml hingga 4 liter. Gelas ukur digunakan untuk pengukur atau pengambilan zat cair dengan ketapatan kira-kira. Besarnya antara 10 ml hingga 2 liter. Beaker Glass mempunyai fungsi bukan sebagai alat ukur, walaupun mempunyai ukuran, namun gelas beker atau yang disebut juga dengan beker glass  Digunakan sebagai tempat suatu larutan dan dapat juga untuk digunakan memanaskan atau menguapkan (memekatkan) suatu larutan. Adapun ukuran dari gelas beker yaitu 50 ml hingga 6 liter.
            Labu ukur terdiri dari beberapa jenis, misalnya labu ukur alas datar dan labu ukur alas bulat. Ukuran labu ukur terdiri dari 50 ml hingga 4 liter. Labu ukur digunakan sebagai tempat zat yang dititrasi. Pipet Gondok atau volume. Pipet pemindah volume digunakan untuk memindahkan suatu volume tertentu dari zat cair dengan ketelitian yang lebih besar dibandingkan gelas ukur. Pipet ini mempunyai ukuran 1 ml hingga 25 ml.
            Pipet tetes digunakan untuk memindahkan suatu larutan dengan skala kecil. Pipet tetes tidak memiliki ukuran. Bahannya sangat tipis, sehingga mudah sekali pecah. Spatula terdapat dua jenis, yaitu spatula kaca dan spatula logam, spatula kaca berfungsi untuk mengadu larutan, sedangkan spatula logam berfungsi untuk mengambil larutan dan mengaduk larutan.







BAB IV
PENUTUP
  1. Kesimpulan
1.   Jenis alat yang paling sering digunakan didalam laboratorium yaitu bahan gelas.
2.   Didalam laboratorium kita harus memperhatikan hal-hal yang berbahaya.
3.   Setiap alat ukur yang terdapat dilaboratorium memiliki tingkat ketelitian yang berbeda.
4.   Di dalam laboratorium kita harus teliti dalam menggunakan alat-alat yang ada di dalam laboratorium karena alat-alat tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.
5.   Kesalahan praktikan dalam menggunakan alat-alat dapat menghasilkan data yang tidak sesuai.
6.   Penguasaan penggunaan alat dapat mempengaruhi lancar atau tidaknya praktikum

  1. Saran
Perlunya pengenalan alat – alat laboratorium pada mahasiswa, agar mahasiswa dapat merawat dan menggunakan alat – alat laboratorium secara benar.








DAFTAR PUSTAKA












Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

Followers

- Copyright © 2013 MEDICAL LABRORATORY -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -